Arti Hidup Dan Tujuan Part 1
Hidup berada diantara dua dimensi, yaitu anugrah dan musibah. Menjadi anugrah karena didalamnya telah bertabur beragam nikmat, baik yang bersifat instan maupun yang masih membutuhkan proses dan usaha. Sedangkan dimensi musibah, hidup tak akan pernah lepas dari ujian dan cobaan yang membuat lika-liku kehidupan kita menjadi menarik. Apalah asyiknya jalan yang selalu lurus, lancar, tanpa ada tikungan, dan rintangan. Anugrah hidup akan menjadi sempurna saat kita bisa menikmati sebuah musibah dan menjadikannya sebagai pelajaran dan penyempurna kehidupan.
Anugrah dan musibah adalah dua hal yang selalu berdampingan dan beriringan dalam menemani kita semua. Tidak ada terlewatkan satu makhluk pun di dunia ini dari jamahan keduanya. Ia akan hadir secara bergantian dan sesuai kebutuhan dan kemampuan kita masing-masing, adakalanya di antara kita sering kali mendapatkan musibah dan ada yang tidak. Intinya, setiap kali ditimpa cobaan, akan ada balasan nikmat setelahnya jika kita benar-benar bersabar.
Allah SWT berfirman,
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِين(١١٨) إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ وَلِذَلِكَ خَلَقَهُمْ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لأمْلأنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ (١١٩)
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan, bahwa sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) kesemuanya.(QS Hud [11]: 118-119)
Aya tersebut menjelaskan tentang adanya kelengkapan nikmat kebutuhan manusia sebelum manusia diciptakan, dengan tujuan untuk mendukung keberlangsungan hidup mereka dan ketundukannya kepada Allah swt. Elemen-elemen alam yang menjadi pelayan tidak enggan untuk melayani manusia, baik yang mukmin maupun kafir atau baik yang patuh maupun yang durhaka karena Allah-lah yang membuat mereka menjadi ada. Inilah yang kemudian dimaksud dengan anugrah Rububiyah (berkaitan dengan nikmat dunia yang diberikan kepada seluruh manusia tanpa terkecuali) dan anugrah uluhiya (terkait keimanan dan kepatuhan). Jadi, barang siapa yang mendapatkan keduanya, maka akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Demikian kurang lebih uraian Syekh Muatwallu asy-Sya'rawi.
Berdasarkan uraian tersebut, maka tepatlah bahwa hidup adalah rumah anugrah dan sumber kenikmatan yang akan menjadikan kita bahagia. Berapa besar kasih sayang Allah swt yang telah menciptakan semua itu jauh sebelum kita ada, menghidangkannya dengan penuh kasih sayang kepad kita dan menyajikannya dengan bentuk beragam serta mengasyikkan. Oleh karena itu, sangat tidak pantas kita bermalas-malasan dalam menunaikan tanggung jawab kita, menunaikan seruan-Nya dan melalaikan perintah-Nya, apalagi jika kita sampai mendurhakai-Nya dan menyekutukan-Nya.
Dalam ayat lain, Allah swt berfirman,
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى ٱلْأَرْضِ زِينَةً لَّهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا{٧}
Sesungguhnya kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk kami menguji di antara mereka siapa yang terbaik perbuatannya. (QS Al-Kahfi [18]: 7)
Maksud dari kalimat kami menguji mereka ialah bukan dalam arti musibah yang dikenal atau diprediksi banyak orang. Namun, hal tersebut merupakan cobaan atau ujian yang diberikan kepada manusia walaupun Allah mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada mereka, dengan tujuan menjadi saksi dan alat bukti dalam kehidupan ini. Diibaratkan dengan para guru yang telah mengetahui bahwa salah satu dari murid mereka akan lulus atau gagal dengan ujian yang dihadapinya. Hal tersebut tidak menjadikan akan dibatalkan atau ditiadakannya ujian itu, karena dengan adanya ujian tersebut, akan diketahui siapa di antara siswa yang lulus dan gagal. Demikian penjelasan Syek Mutawalli asy-Sya'rawi.
Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah swt telah menciptakan sesuatu di atas bumi ini untuk menjadi perhiasan di dalamnya seraya memberitahukan kepada seluruh hamba-hamba-Nya. Apakah mereka akan meninggalkan gemerlap dunia itu, mengikuti perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya serta melaksanakan dengan penuh ketaatan di dalam bumi tersebut? Artinya, anugrah hidup dengan dilengkapi beragam nikmat dijadikan sebagai ujian untuk mengukur siapa di antara kita yang benar-benar tunduk, patuh, dan ikhlas beribadah kepada Allah swt dengan orang-orang yang hidupnya dipenuhi kelalaian lantaran hanyut dengan kenikmatan duniawi itu.
Komentar
Posting Komentar